Industri game Indonesia terus berkembang dengan identitas yang semakin berani dan matang. Salah satu judul yang hadir membawa pendekatan berbeda adalah Liro: Divine Corruption, sebuah game action RPG bergaya soulslike yang menggabungkan unsur budaya Asia Tenggara dengan dunia dark fantasy yang kelam dan penuh konflik. Dikembangkan oleh Glaid Studio yang berlokasi di Tangerang, game ini menawarkan pengalaman naratif yang tidak hanya menantang secara gameplay, tetapi juga emosional melalui cerita dunia yang berada di ambang kehancuran.

Sebagai game Indonesia, Liro: Divine Corruption tidak sekadar menghadirkan mekanik pertarungan presisi khas soulslike, tetapi juga membangun dunia dengan identitas budaya yang kuat. Pemain diajak memasuki Lhoka, sebuah dunia yang dulunya makmur, namun kini perlahan sekarat akibat perang besar dan korupsi kekuatan suci.

Dunia Lhoka dan Luka Bernama Bloodveil War

Liro: Divine Corruption berlatar di dunia bernama Lhoka, sebuah dunia yang terdiri dari tujuh bangsa dengan sistem kasta yang kaku dan hierarki yang timpang. Keseimbangan dunia ini runtuh setelah terjadinya Bloodveil War, perang besar yang melibatkan bangsa-bangsa berpengaruh di Lhoka.

Perang ini dipicu oleh perebutan Divine Water, air suci yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk di Lhoka. Selama perang berlangsung, pertumpahan darah yang masif mencemari Divine Water dan mengubahnya menjadi sesuatu yang mematikan. Sejak saat itu, dunia tidak lagi sama. Alam rusak, wabah menyebar, dan makhluk hidup perlahan kehilangan kemurniannya.

Sebagai game Indonesia yang menaruh perhatian besar pada worldbuilding, kehancuran Lhoka tidak hanya menjadi latar cerita, tetapi juga fondasi konflik yang membentuk seluruh perjalanan pemain.

Divine Water: Dari Sumber Kehidupan Menjadi Bencana

Divine Water awalnya dipuja dan disakralkan. Air ini mengalir melalui Divine Tree yang tersebar di setiap bangsa dan terhubung langsung dengan Gunung Kalash, sebuah gunung sakral yang menjadi pusat keseimbangan dunia.

Namun setelah terkorupsi, Divine Water berubah menjadi Blighted Water. Setiap makhluk hidup yang mengonsumsinya perlahan menjelma menjadi wujud dari ketakutan terdalam mereka. Tumbuhan layu, lingkungan membusuk, dan kehidupan di Lhoka berada di ambang kepunahan.

Konsep ini memberi Liro: Divine Corruption identitas yang kuat. Korupsi tidak hanya ditampilkan secara visual, tetapi juga sebagai simbol dari ketakutan, keserakahan, dan kegagalan menjaga keseimbangan. Sebuah pendekatan naratif yang jarang ditemui, terutama dalam game Indonesia.

Liro: Manusia Biasa di Dunia yang Hancur

Liro: Divine Corruption merupakan sebuah action RPG dengan pendekatan soulslike yang dibalut nuansa dark fantasy. Secara visual, game ini menampilkan desain karakter, bangunan, serta lingkungan dengan pengaruh khas Asia Tenggara yang kemudian diolah ke dalam dunia fantasi gelap tanpa terikat pada satu unsur budaya tertentu.

Dalam game ini, pemain akan mengikuti perjalanan Liro, karakter utama yang menjadi pusat cerita. Ia bukan sosok pahlawan terpilih, melainkan manusia biasa yakni mantan prajurit yang hidupnya hancur akibat perang dan sistem yang timpang. Kehilangan keluarga dan masa depan mendorong Liro untuk menempuh perjalanan penuh konflik batin, di mana tujuannya bukan sekadar menyelamatkan dunia, tetapi juga menyucikan Divine Water demi menuntut keadilan atas kehancuran hidupnya. Pendekatan narasi ini memperkuat identitas Liro: Divine Corruption sebagai game soulslike dengan cerita yang kelam, manusiawi, dan berfokus pada pengalaman personal sang protagonis.

Soulslike dengan Identitas Game Indonesia

Sebagai game Indonesia, Liro: Divine Corruption menghadirkan tantangan khas soulslike: pertarungan presisi, dunia yang tidak memaafkan kesalahan, dan narasi yang tidak menggurui. Game ini tidak menawarkan jawaban hitam dan putih. Setiap langkah, setiap keputusan, membawa konsekuensi.

Yang membedakan, identitas Asia Tenggara terasa kuat melalui desain dunia, filosofi cerita, dan inspirasi budaya yang diolah secara matang. Ini bukan sekadar estetika, melainkan upaya menghadirkan cerita lokal dengan pendekatan global.

Kisah di Balik Game Indonesia Liro: Divine Corruption adalah pengantar menuju dunia yang penuh penderitaan, misteri, dan dilema moral. Perjalanan Liro bukan tentang menjadi pahlawan sempurna, melainkan tentang bertahan hidup di dunia yang telah kehilangan kehangatannya.

Penasaran Bagaimana Perkembangan Game Ini Selanjutnya?

Liro: Divine Corruption saat ini tengah dikembangkan oleh Glaid Studio. Yuk, ikuti dan nantikan update terbaru seputar pengembangan game, dunia Lhoka, serta kisah kelanjutan perjalanan Liro.